Sebuah Kisah Sukses yang Rentan
Reintroduksi serigala abu-abu (Canis lupus) ke Taman Nasional Yellowstone pada tahun 1995 dianggap sebagai salah satu kisah sukses konservasi paling luar biasa di Amerika Utara. Setelah diburu hingga punah di kawasan itu pada awal abad ke-20, kembalinya serigala memicu efek “trophic cascade” yang memperbaiki kesehatan seluruh ekosistem. Populasi elk yang sebelumnya berlebihan menjadi terkendali, memungkinkan vegetasi riparian (seperti willow dan aspen) tumbuh kembali, yang pada gilirannya menstabilkan tepi sungai dan mendukung populasi beaver serta burung. Serigala Yellowstone bukan hanya predator; mereka adalah arsitek ekosistem.
Selama dua dekade, populasi serigala tumbuh, menjadi daya tarik utama bagi wisatawan dan pendorong ekonomi lokal di sekitar taman melalui wolf watching. Namun, pada saat yang sama ketika serigala telah berhasil pulih, status perlindungan mereka mulai dicabut oleh pemerintah federal. Ancaman baru yang muncul belakangan ini bukanlah penyakit atau kelangkaan mangsa, melainkan perubahan kebijakan perburuan yang agresif dan drastis di negara bagian yang berbatasan langsung dengan taman, yaitu Montana dan Idaho. Kebijakan ini secara langsung membahayakan populasi serigala yang tinggal di dalam zona aman taman nasional.
Deregulasi dan Perubahan Kebijakan Perburuan
Ancaman terbesar bagi serigala Yellowstone saat ini berasal dari serangkaian undang-undang baru yang disahkan di Montana dan Idaho, sebagian besar dimulai atau ditingkatkan sekitar tahun 2021. Negara-negara bagian ini, di bawah tekanan dari peternak dan kelompok pemburu, telah mengadopsi taktik perburuan yang sangat liberal dan agresif.
Di Montana, perubahan regulasi mencakup peningkatan tajam dalam kuota perburuan, perpanjangan musim perburuan, dan yang paling kontroversial, otorisasi penggunaan metode seperti jerat (snaring) di sebagian besar wilayah, termasuk area yang berbatasan langsung dengan Yellowstone. Selain itu, ada ketentuan yang memungkinkan perburuan malam hari di lahan pribadi dan mengizinkan penggunaan umpan (baiting) untuk menarik serigala. Pemburu di Montana bahkan dapat memegang hingga 20 lisensi jerat per orang dan membunuh hingga 10 serigala per tahun.
Situasi serupa terjadi di Idaho, di mana undang-undang baru telah mempermudah perburuan dan penjebakan serigala, bahkan menawarkan insentif finansial (bounty) untuk mendorong pembunuhan serigala sebagai upaya drastis untuk mengurangi populasi. Tujuannya jelas: secara signifikan mengurangi jumlah serigala di negara bagian tersebut.
Dampak Langsung pada Kawanan Ikonik
Masalah krusial muncul karena serigala tidak mengenal batas politik. Kawanan serigala yang menghabiskan sebagian besar waktu mereka dengan aman di dalam batas Yellowstone, dan yang telah menjadi ikon pariwisata, secara berkala melintasi perbatasan taman ke wilayah negara bagian saat mereka mengikuti mangsa. Di sinilah mereka menjadi sasaran empuk dari regulasi perburuan baru.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah serigala yang populer dan dipantau secara ketat oleh para peneliti dan pengamat di Yellowstone telah terbunuh segera setelah mereka melangkah keluar dari taman. Salah satu kasus yang paling mengkhawatirkan adalah terbunuhnya serigala alpha atau anggota kunci lainnya. Kematian individu penting ini tidak hanya mengurangi jumlah serigala, tetapi juga menghancurkan struktur sosial kawanan.
Serigala hidup dalam hierarki keluarga yang kompleks. Hilangnya pemimpin atau serigala pembawa keturunan dapat menyebabkan:
- Disintegrasi Kawanan: Kawanan bisa bubar, membuat serigala yang tersisa menjadi lebih rentan.
- Pergeseran Perilaku: Serigala yang tersisa mungkin mengubah pola berburu mereka, terkadang beralih ke mangsa ternak yang lebih mudah, yang justru meningkatkan konflik dengan peternak.
- Penurunan Reproduksi: Kematian serigala alpha dapat menghentikan atau sangat mengurangi keberhasilan reproduksi kawanan di tahun-tahun berikutnya.
Para ilmuwan konservasi berpendapat bahwa perburuan agresif di buffer zone (zona penyangga) ini secara efektif merusak upaya perlindungan federal yang telah berlangsung selama puluhan tahun, menekan populasi inti yang seharusnya berfungsi sebagai sumber pemulihan serigala di kawasan yang lebih luas.
Pertentangan dan Masa Depan Serigala
Konflik atas serigala di sekitar Yellowstone mencerminkan pertentangan mendalam antara nilai konservasi dan kepentingan ekonomi lokal. Bagi para pelancong dan pengamat satwa liar, serigala adalah aset yang menarik ribuan pengunjung dan jutaan dolar ke kawasan tersebut setiap tahun. Bagi sebagian besar peternak, serigala adalah ancaman nyata terhadap mata pencaharian mereka, meskipun data menunjukkan bahwa kerugian ternak akibat serigala seringkali dibesar-besarkan.
Para ahli konservasi, termasuk mantan pengelola taman, telah menyerukan agar area di sekitar Yellowstone, yang dikenal sebagai Greater Yellowstone Ecosystem (GYE), ditetapkan sebagai zona penyangga di mana perburuan serigala dibatasi atau dilarang sama sekali. Seruan ini didasarkan pada argumen bahwa serigala di GYE memiliki nilai ekologis dan ekonomi yang unik yang harus diutamakan di atas kepentingan perburuan rekreasi.
Tanpa intervensi politik atau hukum untuk mendesak Montana dan Idaho agar menerapkan batas perburuan yang lebih masuk akal dan mematuhi etika konservasi yang lebih luas, masa depan serigala yang telah menjadi simbol pemulihan alam di Yellowstone akan tetap berada dalam bahaya besar. Perubahan kebijakan negara bagian ini adalah kemunduran signifikan, mengancam untuk membatalkan hampir tiga dekade kerja keras konservasi.