Skip to content

Apple Membuka Megastore Baru di China

Ditengah Kritik William Barr

Di tengah lanskap geopolitik yang kompleks dan ketegangan perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Apple Inc. terus memperkuat kehadirannya di pasar China dengan pembukaan toko retail yang signifikan. Pembukaan megastore baru ini terjadi bersamaan dengan kritik keras yang dilontarkan oleh mantan Jaksa Agung AS William Barr, yang menuduh perusahaan-perusahaan Amerika, termasuk Apple, “tunduk” kepada Partai Komunis China (PKC) demi keuntungan finansial jangka pendek.

Artikel ini akan mengulas pembukaan toko baru Apple di China pada tahun 2025, konteks strategis di balik ekspansi retail tersebut, dan kritik yang muncul kembali dari William Barr mengenai hubungan bisnis Apple dengan Beijing.

Ekspansi Retail Apple di China: Sebuah Langkah Strategis

China tetap menjadi pasar yang sangat penting bagi Apple, mewakili pasar terbesar kedua perusahaan di luar AS. Meskipun menghadapi tantangan seperti perlambatan penjualan iPhone dan persaingan ketat dari merek domestik seperti Huawei dan Xiaomi, Apple tetap berkomitmen pada strategi ekspansi fisiknya.

Pada tahun 2025, Apple telah membuka beberapa lokasi baru, termasuk di Shenzhen dan Beijing, dan merencanakan lokasi tambahan di Shanghai. Langkah ini menunjukkan keyakinan Apple pada potensi jangka panjang pasar konsumen China, meskipun ada tantangan ekonomi saat ini. Selain membuka toko baru, Apple juga sedang mengoptimalkan jejak retailnya, seperti yang terlihat dari keputusan untuk menutup toko pertamanya di China di Dalian City’s Parkland Mall pada akhir tahun 2025.

Pembukaan megastore ini bukan hanya tentang penjualan; ini adalah pernyataan komitmen merek. Toko-toko unggulan (flagship store) Apple dirancang untuk menjadi pusat pengalaman, menarik pelanggan, dan memperkuat citra merek premiumnya. Investasi infrastruktur fisik ini sejalan dengan pernyataan CEO Apple Tim Cook yang menyambut baik kesempatan untuk memperluas investasi di China, sebuah pesan yang disampaikan langsung kepada menteri perdagangan China pada Maret 2025 di tengah ancaman tarif dari AS.

Bagi Apple, menyeimbangkan antara ketergantungan manufaktur yang mendalam di China (sekitar 80% mitra manufaktur Apple memiliki jejak di negara itu) dan pasar konsumen yang besar adalah prioritas bisnis utama. Ekspansi retail ini adalah bagian dari upaya Apple untuk mempertahankan pangsa pasar dan loyalitas pelanggan di hadapan rival lokal yang agresif.

Kritik William Barr: Dilema Etika dan Keamanan Nasional

Di sisi lain, ekspansi Apple di China telah menarik perhatian dan kritik dari tokoh politik Amerika, terutama William Barr. Kritikan Barr, yang pertama kali mencuat dalam pidato penting pada Juli 2020 dan terus bergema, berfokus pada apa yang ia anggap sebagai standar ganda perusahaan teknologi AS dalam berurusan dengan pemerintah.

Barr menuduh perusahaan-perusahaan seperti Apple mengkompromikan prinsip-prinsip privasi dan kebebasan berekspresi untuk mengakses pasar China yang menguntungkan. Dia secara khusus menyoroti keputusan Apple untuk menghapus aplikasi berita dan VPN (Virtual Private Network) tertentu dari App Store China atas permintaan pemerintah China, yang memungkinkan pengguna untuk menghindari “Tembok Api Besar” (Great Firewall) China.

Barr berpendapat bahwa Apple tunduk pada tuntutan sensor dan pengawasan China, sementara pada saat yang sama menolak permintaan penegak hukum AS untuk akses data atau membuat “pintu belakang” (backdoor) ke perangkat iPhone yang terkunci. “Apakah Anda pikir ketika Apple menjual ponsel di China, ponsel Apple di China kebal terhadap penetrasi oleh otoritas China? Mereka tidak akan dijual jika kebal,” ujar Barr dalam salah satu pidatonya.

Kritik ini menempatkan Apple pada posisi yang sulit: dituduh memprioritaskan keuntungan finansial di atas nilai-nilai demokrasi dan hak asasi manusia. Barr bahkan mengisyaratkan kemungkinan bahwa pemimpin bisnis Amerika yang menganjurkan kepentingan politik PKC atas nama mereka sendiri bisa menghadapi tuntutan hukum di bawah Foreign Agents Registration Act (FARA).

Perspektif Ganda dalam Perang Dagang

Tindakan Apple membuka toko baru di China dan kritik Barr mencerminkan ketegangan yang lebih luas antara AS dan China. Dari sudut pandang bisnis, Apple bertindak secara rasional untuk melayani pasar konsumen terbesarnya dan mengelola rantai pasokannya. Perusahaan berpendapat bahwa keputusannya untuk menyimpan data pelanggan di pusat data yang dioperasikan oleh perusahaan China, misalnya, sesuai dengan undang-undang lokal dan tidak menciptakan pintu belakang keamanan.

Namun, dari perspektif keamanan nasional AS, hubungan erat Apple dengan China dipandang sebagai kerentanan strategis. Barr dan kritikus lainnya melihat ekspansi ini sebagai bagian dari “tunduk” perusahaan Amerika terhadap ambisi global China, yang pada akhirnya bertujuan untuk menggantikan AS sebagai kekuatan ekonomi dan teknologi global.

Dalam iklim politik saat ini, di mana sentimen anti-China meningkat di AS, setiap langkah ekspansi Apple di China akan terus diawasi dengan cermat. Pembukaan megastore baru adalah bukti nyata dari komitmen Apple terhadap pasar China, tetapi juga berfungsi sebagai pengingat akan dilema etika dan geopolitik yang dihadapi oleh perusahaan multinasional yang beroperasi di dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia yang sedang bersaing.

Apple, yang terjebak di antara tuntutan pasar China dan tekanan politik AS, harus terus menavigasi keseimbangan yang rapuh antara pertumbuhan ekonomi dan tanggung jawab perusahaan di panggung global yang semakin terpolarisasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *