Unicorn Moluska dari Lumpur Belerang
Bagi kebanyakan orang, cacing kapal (shipworm) adalah hama laut yang merusak, moluska bivalvia seperti kerang yang telah berevolusi menjadi pembor kayu, menghancurkan lambung kapal, dermaga, dan tiang pancang. Mereka adalah makhluk kecil, yang melakukan pekerjaannya secara diam-diam. Namun, di perairan dangkal yang berlumpur di Filipina dan beberapa bagian Asia Tenggara, bersembunyi kerabat mereka yang jauh lebih besar dan misterius: Cacing Kapal Raksasa (Kuphus polythalamius).
Nama ilmiah ini mungkin terdengar tidak mengancam, tetapi ketika Anda melihat makhluk ini keluar dari rumahnya—sebuah tabung batu kapur sepanjang lebih dari satu meter—Anda mungkin akan setuju dengan judulnya. Cacing Kapal Raksasa adalah makhluk yang akan membuat Anda bergidik sekaligus terpukau. Ini adalah moluska bivalvia terpanjang di dunia, dengan spesimen yang tercatat melebihi panjang 1,6 meter dan diameter hingga 7 sentimeter. Untuk konteksnya, bayangkan sebuah kerang yang berbentuk seperti tongkat baseball hitam yang panjang dan berlumpur.
Selama berabad-abad, keberadaan Cacing Kapal Raksasa hanya diketahui dari tabung mineral raksasanya yang berbentuk gading gajah. Tabung-tabung kalsium karbonat yang besar dan tumpul ini sesekali terdampar di pantai, membuat para ilmuwan bingung mengenai makhluk apa yang membuatnya. Bahkan bapak taksonomi modern, Carl Linnaeus, salah mengklasifikasikannya sebagai cacing tabung (polychaeta) pada abad ke-18. Jasad lunak di dalamnya—makhluk sejati—hampir tidak pernah terlihat. Hanya satu spesimen hidup yang dipreservasi yang diketahui pada era modern, menjadikannya ‘unicorn moluska’ di mata para ahli biologi kelautan.
Menyingkap Tabir Hitam
Misteri ini akhirnya terpecahkan pada tahun 2017 ketika tim peneliti berhasil memperoleh lima spesimen hidup di Filipina. Video saat para ilmuwan dengan hati-hati menuangkan Cacing Kapal Raksasa keluar dari tabungnya dengan perlahan menjadi sensasi internet. Makhluk itu sendiri—terlepas dari rumahnya yang putih kapur—adalah pemandangan yang mengejutkan. Ia berwarna hitam pekat, berlendir, dan sangat berotot, jauh berbeda dengan warna abu-abu atau cokelat muda dari bivalvia biasa.
Ketika makhluk itu ditarik keluar, ia tampak kurang seperti kerang dan lebih seperti pita hitam panjang yang belum pernah ada yang melihat sebelumnya. Penemuan ini bukan hanya memuaskan rasa ingin tahu; tetapi juga mengungkapkan pergeseran evolusioner radikal yang menantang pemahaman kita tentang bagaimana makhluk ini bertahan hidup.
Tidak seperti cacing kapal biasa yang menggali dan mengonsumsi kayu yang tenggelam (sebuah proses yang membutuhkan sistem pencernaan yang kuat), Kuphus polythalamius hidup terperosok di dalam lumpur laut yang kaya akan bahan organik di laguna dan rawa bakau. Jika ia tidak memakan kayu, lalu apa yang ia makan?
Kekuatan Sulfur dan Simbiosis Aneh
Jawabannya terletak pada adaptasi yang brilian dan tidak biasa. Cacing Kapal Raksasa ini telah meninggalkan kebiasaan makan kayu leluhurnya dan beralih ke sumber energi yang berbau tak sedap: hidrogen sulfida (H_2S).Di dalam insangnya, makhluk ini menampung populasi bakteri simbiotik—thioautotrophic—yang canggih. Bakteri ini berperilaku mirip dengan bakteri yang ditemukan di ventilasi hidrotermal laut dalam. Mereka mengambil hidrogen sulfida beracun dari lumpur di sekitarnya dan menggunakannya dalam proses kemoautotrof untuk menghasilkan gula dan makanan organik. Pada dasarnya, bakteri tersebut adalah pabrik makanan internal Cacing Kapal Raksasa.
Hubungan ini menjelaskan mengapa makhluk itu tumbuh begitu besar. Karena makanan sudah disediakan oleh bakteri, sistem pencernaannya yang dulunya vital menjadi tidak berguna. Para ilmuwan menemukan bahwa Kuphus polythalamius memiliki organ internal yang sangat kecil, bahkan tidak memiliki sekum (organ penyimpan kayu) yang dimiliki oleh cacing kapal lain. Makhluk ini hampir tidak perlu makan sama sekali. Ia hanya perlu menyaring air yang kaya akan H_2S melalui insangnya untuk memberi makan simbionnya.
Jembatan Evolusioner yang Menyeramkan
Penemuan ini juga menjadi jembatan evolusioner yang penting. Hal ini mendukung teori “tangga kayu” (wooden-steps theory), yang mengusulkan bahwa cacing kapal kecil yang memakan kayu bertindak sebagai perantara evolusioner, memungkinkan moluska untuk pindah dari diet berbasis kayu ke simbiosis kemoautotrof yang ditemukan di lingkungan yang kaya sulfur—seperti lumpur tempat tinggal Cacing Kapal Raksasa, atau lingkungan ekstrem ventilasi hidrotermal.
Meskipun penampilannya mungkin mengingatkan kita pada mimpi buruk sci-fi yang berlendir, Cacing Kapal Raksasa menawarkan jendela ke dunia evolusi yang radikal. Ini adalah makhluk yang telah bertransformasi dari hama perusak menjadi pemanen energi sulfur.
Cacing Kapal Raksasa adalah sebuah paradoks. Ia adalah bivalvia, namun nyaris tidak memiliki cangkang luar; ia adalah cacing kapal, namun tidak memakan kapal; dan ia tumbuh menjadi ukuran raksasa di lingkungan yang paling tidak ramah. Ia mungkin akan membuat Anda berharap ia tetap berada di dalam tabung batunya yang elegan, tetapi penemuannya yang mengejutkan telah memberi kita wawasan berharga tentang kemampuan adaptasi kehidupan di lautan.